Profil

Profil Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi

UIN SGD Bandung

Atas nama civitas akademika Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pertama-tama menyampaikan ucapan selamat kepada saudara yang akan, sedang atau telah menyelesaikan ujian akhir di SLTA. Bagi saudara yang hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, dengan Status Negeri dan biaya pendidikan terjangkau, saudara dapat menjatuhkan pilihan di Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

PENDIRIAN JUR. BPI

Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) berdiri tahun 1993. Berdasarkan surat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 393 tahun 1993, yang diperkuat oleh Keputusan Menteri Agama Nomor 407 tahun 1993 tanggal 31 Desember 1993. Jurusan BPI ditetapkan sebagai salah satu jurusan di di Fakultas Dakwah (sekarang Fak Dakwah dan Komunikasi) IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, yang dijelskan pada bagian Ketiga Pasal 76-77 KMA tersebut.

KE-KHAS-AN JUR. BPI

BPI di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, memiliki ciri khas yang berbeda dengan Bimbingan dan Konseling yang berkembang di Indonesia, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) pendidikan dan Bimbingan dan Konseling Psikologi. Sedangkan Jurusan BPI dikembangkan dengan ciri khas yang lebih mengarah kepada Counseling for All (Konseling untuk masyarakat luas) dalam bingkai Ilmu Dakwah dengan basis konseling agama. Sehingga Konseling Pendidikan dan Konseling Psikologi merupakan bagian integral dari wilayah kajian BPI sesuai dengan rumpun Ilmu Dakwah yang menjadi induknya.

TUJUAN JUR. BPI

Jurusan BPI siap mencetak tenaga-tenaga professional sebagai Pembimbing, Penyuluh, Konselor, dan Terapist agama/spiritual yang banyak dibutuhkan dalam berbagai sektor, sesuai dengan trend perkembangan saat ini yang butuh sisi spiritual dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu keahlian Jurusan BPI, diorientasikan kepada: Keahlian teoritik dan Keahlian Praktik di bidang bimbingan, penyuluhan, konseling, dan psikoterapi Islam.

Tempat Pendaftaran:

Bag. Akademik Lt. III UIN SGD Bandung JL. AH. Nasution No. 105 Cibiru Bandung 40614Tlp. (022) 7810788-Fax.7803936.

Website: http://www.uinsgd.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Profil”

RSS Feed for Jurusan BPI UIN SGD Bandung Comments RSS Feed

emang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan yang makan dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan yang terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tidak dimanfaatkan, untuk modal bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, yang seharusnya Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan hanya semangat dan indah saat diucapkan, dalam kajian – kajian rutin pekanan.
Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena langganannya adalah para anggota Dewan yang baik hati. Dengan alasan membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tidak punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang halal itu telah menanti.
Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk bisnis jualan permata. Yang penting rumah megah ada dua, mobil mewah ada lima serta banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa dunia ini hanya sementara, dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya syurga yang siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk masuk kedalamnya.
Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan aturan agama untuk hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas barulah greng. Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya memuaskan para pemilik modal yang berotak gendeng.
Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. Makanya banyak orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah yang menggauli anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting. Akibatnya banyak Anggaran Negara dan Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting keluarga dan rekan kerja puas main banking, tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri karena pusing. Lupakah mereka dengan hari yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal mereka ditimbang ternyata banyak yang garing, dengan hadiah azab neraka yang mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.
Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin yang tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah yang mensuplai dana kampanye Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat berbuat sedeng.
Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, yang wajib dibeli oleh para wali murid yang pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk menghilangkan kebodohan yang sudah membeku, yang dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan bukti jutaan anak didik yang sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.
Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang terjadi adalah polemik. Guru tak mau mendengarkan kebenaran dari anak didik. Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya adalah hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan pelangi yang menarik. Sehingga ketika nasehat datang seharusnya yang terucap adalah labbaik.

By: Tedi Setiadi (Permata Intan Garut UIN SGD)

Terima kasih atas ulasannya. Mari kita sama-sama belajar untuk tak hanya melihat masalah, tapi juga menjadi bagian dari pemecah masalah. jika semakin banyak yang mau jadi pemecah masalah, insya Allah lambat laun negeri ini akan semakin baik.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: