Menulis Terus Apa Saja!

Posted on Oktober 15, 2008. Filed under: Writing Movement |

PERTAMA kali menulis artikel, waktu itu saya semester tiga di UIN Bandung. Untuk masuk ke media, memang susah banget. Dua puluh kali — malahan lebih saya rasa — menulis dan mengirimkannya ke media, tak satu pun yang dimuat.

Alah, biar saja ndak dimuat juga. Yang penting saya harus terus menulis!, tekadku waktu itu.
Beda dengan para penulis lain. Saya tak dimuat tulisan juga, nggak apa-apa. Kan, punya blog sekarang itu. Tinggal saya posting ke blog. beres! Tak ada soal yang memusingkan. Enjoy aja lagi. Tapi, bagi para penulis yang menggantungkan penghasilannya kepada seberapa banyak dimuat di media massa, susah juga sih. Mereka pelit memampang ide-idenya di blog. Katanya, takut diklaim — pemikirannya — adalah milik si plagiator.

Ah, secara pribadi saya tidak bakal repot-repot ketika ada tulisan saya yang diklaim karya orang lain. Silahkan dicopy paste juga. Tak ada soal yang menyoalkan ketakjujuran itu.

Selain itu, para penulis yang kerjanya menulis artikel emang gampang cemburu. Kalau ada penulis yang sering nongol di media massa, mereka ngomong bahwa redakturnya berat sebelah kayak layang-layang. Bahkan, imbasnya ada cacian menyudutkan terhadap penulis yang sering muncul tulisannya di suatu media, sebagai orang dekat redaksi. Akibatnya, penghargaan terhadap materi tulisan ndak ada sama sekali.

Itulah gonjang-ganjing di dunia tulis-menulis — tentunya kalau menggantungkan hidup atau menambah penghasilan dari pemuatan artikel. Saya rasa, pradigma penulis model begituan harus diubah. Kan, kata Guru saya, Budhiana Kartawijaya, penulis itu salah satu dari intelektual publik. Yang seharusnya memberikan pemahaman bijak terhadap suatu persoalan yang melingkari bangsa secara tulus. Kalau yang ada di otak penulis itu uang, ya jangan menulis. Sebab, menulis di negeri kita adalah profesi yang susah mendapatkan kekayaan membubung. Sekalipun penulis buku Best Seller!

Kalau mau miskin, maka jadi penulis dong. Ini bukan perkataan saya. Tapi, Kangmas Jacob Sumardjo lho. Artinya, menulis adalah kewajiban moral intelektual. Kendati kepuasan material sangat dibutuhkan, tapi terjajah dengannya akan membuat kesucian karya kita terkotori. Saya bukan malaikat yang tak butuh dengan uang. Tapi, bukan pula syetan yang rakus dengan kepuasan material. Saya adalah manusia yang berusaha menyeimbangkan kebutuhan-kebutuhan pada titik awal yang seimbang.

Jadi, menulislah kemana pun pikiran melayang-layang. Tanpa diperbudak keinginan-keinginan dangkal material. Apa pun materinya, tulislah. Biar tidak dipahami pembaca juga, tapi saya yakin dari ratusan juta orang yang ada di Indonesia, ada seribu orang yang akan mengerti tulisan kita. Meskipun redaksi di sebuah penerbitan buku atau koran, tidak bisa memahaminya dan tidak menyukainya. Selamat menulis ah….

(Sukron Abdilahkamana we nulis mah)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Menulis Terus Apa Saja!”

RSS Feed for Jurusan BPI UIN SGD Bandung Comments RSS Feed

emang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan yang makan dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan yang terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tidak dimanfaatkan, untuk modal bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, yang seharusnya Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan hanya semangat dan indah saat diucapkan, dalam kajian – kajian rutin pekanan.
Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena langganannya adalah para anggota Dewan yang baik hati. Dengan alasan membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tidak punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang halal itu telah menanti.
Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk bisnis jualan permata. Yang penting rumah megah ada dua, mobil mewah ada lima serta banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa dunia ini hanya sementara, dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya syurga yang siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk masuk kedalamnya.
Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan aturan agama untuk hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas barulah greng. Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya memuaskan para pemilik modal yang berotak gendeng.
Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. Makanya banyak orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah yang menggauli anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting. Akibatnya banyak Anggaran Negara dan Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting keluarga dan rekan kerja puas main banking, tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri karena pusing. Lupakah mereka dengan hari yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal mereka ditimbang ternyata banyak yang garing, dengan hadiah azab neraka yang mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.
Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin yang tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah yang mensuplai dana kampanye Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat berbuat sedeng.
Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, yang wajib dibeli oleh para wali murid yang pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk menghilangkan kebodohan yang sudah membeku, yang dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan bukti jutaan anak didik yang sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.
Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang terjadi adalah polemik. Guru tak mau mendengarkan kebenaran dari anak didik. Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya adalah hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan pelangi yang menarik. Sehingga ketika nasehat datang seharusnya yang terucap adalah labbaik.

By: Tedi Setiadi (Permata Intan Garut UIN SGD)

itulah kalau zaman udah edan, dik.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: