Mengakrabi Alam Ciptaan-Nya

Posted on Oktober 15, 2008. Filed under: Renungan |

Oleh SUKRON ABDILAH (Dimuat di Pikiran Rakyat)

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali” (Q.S. Ar-Ruum ayat 41).

TANGIS pilu warga yang tertimpa longsor ketika bencana alam menghantam, sejatinya menggugah nurani. Dari yang tadinya tidak peka dengan kondisi lingkungan, jadi peka jiwanya sehingga mau terus menjaga alam dari ulah jahil manusia. Itulah yang ditegaskan Allah SWT dalam ayat di atas dengan menggunakan kalimat “agar mereka kembali”. Maksudnya, kembali menyegarkan dan menjaga alam sekitar agar tidak rusak dengan pelbagai cara. Alam — termasuk hutan, air, udara, tumbuhan, dan hewan –adalah ciptaan-Nya yang mesti kita jaga dan pelihara.

Ketika kondisi alam negeri ini rusak dan banyak melahirkan bencana alam, kita harus mulai menata ulang aktivitas relasi dengan alam. Tentunya membungkus laku keseharian dengan bingkai keharmonisan. Bukan malah melakukan kegiatan perusakan yang berakibat fatal bagi warga masyarakat sekitar. Hutan, yang di negeri ini memiliki keindahan panorama mestinya mampu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Bukan lantas merusaknya sehingga bangsa kita — menurut ukuran FAO — merupakan kandidat pertama penghancur hutan tercepat di dunia.

Data FAO menyebutkan, setiap tahun di Indonesia seluas 1,871 juta hektare hutan dihancurkan dan terjadi antara 2000 hingga 2005. Kehancuran hutan di negeri ini juga mencapai 2 persen per tahun atau sekitar 51 kilometer persegi per hari, bahkan diperkirakan per jam kita menghancurkan hutan seluas 300 lapangan sepak bola. Katanya bangsa Indonesia adalah bangsa beragama? Lantas, kenapa hutan yang sebegitu indah dirusak sekadar demi memenuhi kebutuhan perut?

Atas nama kemajuan, pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan materi, hutan pun kena getah eksploitasi. Yang saya tidak setujui adalah eksploitasi hutan tanpa disertai pikiran-pikiran visioner. Mereka tidak berpikir bahwa setelah mati akan meninggalkan anak cucunya dalam keadaan sengsara. Benar juga jika mental bangsa kita adalah mental pemboros, rakus, dan perusak. Tidak memikirkan bahwa 30 tahun ke depan, cucu mereka akan menjadi tumbal pembangunan.

Udara yang kian panas akibat polusi dan kurangnya kawasan hijau adalah soal yang bakal dihadapi anak cucu kita. Ya, pemanasan global akibat tipisnya lapisan ozon karena kita tak begitu peduli dengan hutan adalah masalah yang diwariskan generasi kita. Yang lebih parah adalah apa yang menimpa warga di Sukabumi. Meskipun mereka berada di daerah yang kaya sumber daya air, tidak merasakan kelimpahan dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Sekitar 200 perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) telah mengambil hak warga untuk mendapatkan air bersih.

Kearifan ekologis

Esensi ayat di atas menjelaskan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yakni dari kalimat “agar mereka kembali”. “Kembali” kalau ditinjau dengan kerangka pembangunan berwawasan ekologis, bersanding kuat dengan program pelestarian. Misalnya, program konservasi alam, reboisasi, pajak perusahaan untuk kelestarian alam, pendidikan lingkungan hidup untuk anak didik dan pengurusan izin analisis dampak lingkungan (amdal). Itulah pesan yang mesti kita camkan dalam hati, bahwa Dia (Allah) memerintahkan kita untuk memiliki kearifan ekologis ketika berinteraksi dengan lingkungan.

Kearifan ekologis berbasis agama juga dapat dilihat dari nama-nama surat tentang keragaman ekosistem dan fungsi ekologis, semisal Al-Baqarah (sapi betina), Al-Adiyat (kuda perang), An-Naml (semut), Al-Ankabut (Laba-laba), Ath-Thur (bukit thur) dan masih banyak lagi. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi alam beserta ekosistemnya memiliki sisi fungsional yang wajib dipelihara sebaik-baiknya. Oleh karena itu, arif rasanya jika kita mulai merefleksi kearifan ekologis yang dipesankan oleh-Nya melalui teks suci itu sehingga alam kembali tidak memuntahkan pelbagai bencana kemanusiaan (human disaster). Tujuannya agar menghasilkan arah pembangunan berhiaskan etika-moral agama, dan ketika berinteraksi dengan hutan tidak memanfaatkannya secara eksploitatif dan merusak. Umat Islam yang berbudaya diajarkan untuk tidak bersikap dan berperilaku destruktif seperti melakukan perusakan secara membabi buta terhadap lingkungan hidup (khususnya hutan) atas dalih apa pun. Termasuk atas segala macam dalih pembangunan, yang tak berkaidah tentunya!

Lantas, mengapa kerusakan hutan seakan terus menjadi-jadi? Apakah ada yang salah dengan sikap kita atas hutan sehingga kita menempatkannya sebagai sesuatu yang bukan amanah dari-Nya? Saya kira kehancuran hutan Indonesia terletak pada sikap kita terhadap alam sekitar sehingga muncul stigma bahwa hutan diciptakan hanya untuk dieksploitasi besar-besaran. Sikap inilah yang melahirkan keangkuhan manusia dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Kita seolah tidak menempatkannya sebagai sesuatu yang amat penting bagi kehidupan sehingga kebutuhan timbal balik dinodai dengan laku merusak yang membahayakan jiwa sesama manusia.

Jadi, sebagai seorang Muslim tak selayaknya melakukan perusakan terhadap alam, sebab ia (alam) merupakan penopang kehidupan kita. Hutan, air, hewan, dan tumbuhan adalah sesuatu yang diciptakan-Nya di muka bumi untuk kita kelola dan manfaatkan sebaik-baiknya. Mujiyono Abdillah (2001) menasirkan Surat Al Jaatsiyah ayat 13 sebagai berikut, “Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.” Pertanyaannya, sudahkah kita menangkap pesan Alquran yang memerintahkan umat manusia untuk menjaga keseimbangan alam sekitar?

Mudah-mudahan sudah.***

Penulis, alumni Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: