Manusia Bermartabat

Posted on Mei 30, 2008. Filed under: Renungan |

Oleh SUKRON ABDILAH, S.Sos.I

YA, seperti yang dikatakan teman saya. Kota bermartabat seharusnya merupakan replika asli dari keberadaban penduduknya di suatu daerah. Tanpa adanya orang-orang beradab, kota bermartabat hanyalah berbentuk fatamorgana dan akan berubah menjadi kota biadab. Betul juga kalau agama (Islam) mengajarkan kita untuk berlaku sopan-santun kepada siapa pun. Misalnya, menghormati tamu. Mengapa? Sebab, sebuah penghormatan adalah inti kehidupan dari masyarakat yang bermartabat.

Dalam konteks hubungan sosial urang Sunda, umpamanya, kita dapat mengkaji ungkapan: “someah hade ka semah“. Sopan, santun, dan memperlakukan secara baik orang yang bertamu ke daerahnya, salah satu ciri dari manusia bermartabat. Kebijaksanaan tertinggi dari manusia bermartabat adalah menghargai kedirian orang lain. Caci-maki, sumpah serapah, dan menganggap orang lain tak bernilai ketika berinteraksi; tentunya aktivitas yang tidak layak dilakukan orang-orang di kota bermartabat.

Kota bermartabat dengan kebaikan laku lampah warganya tidak dapat dipisahkan. Artinya, kita mesti menyuarakan nilai-nilai kebaikan yang saat ini seakan lekang dari aksi sosial. Sebab, seseorang bisa dikatakan bermartabat kalau saja tidak terjajah jiwa dan raganya sehingga mampu berotonomi untuk berbuat kebajikan. Disamping itu, orang yang bermartabat akan berusaha membebaskan diri dan umat manusia lainnya dari mengguritanya ketertindasan hak-hak asasi (human rights). Membebaskannya dari penindasan struktural, misalnya kemiskinan adalah upaya pemenuhan hak warga untuk sejahtera.

Martabat! Bukan martabak yang bisa dibolak-balik oleh si pedagang di tempat penggorengan. Bukan pula panganan yang bebas kita santap. Martabat merupakan tujuan inti dari diturunkannya Al-Quran. Bahkan diutusnya kanjeng Nabi Muhammad ke muka bumi hanyalah untuk menyempurnakan martabat manusia. “Innama buistu liutammima makarimu al-akhlaq”.

Kota Madinah pada masa Rasul Saw, umpamanya, menjelma menjadi wilayah yang dipenuhi orang-orang bermartabat. Makanya, Madinah secara historik merupakan kota yang tidak dihiasi aksi hidup barbarian. Meskipun Kota Madinah dipenuhi keragaman, itu tidak membuat warganya gelap mata. Mereka saling meghargai satu sama lain. Alhasil, kanjeng Nabi Muhammad memilih berhijrah ke kota ini ketika ditindas oleh bangsa Quraisy karena disinilah tempat yang aman dan tidak akan terjadi pendiskriminasian sistemik.

Di dalam Al-quran terpampang jelas secara indah, padat dan berisi sbb: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok” (Q.S. Al-Hujurat: 11). Ini artinya, kita tidak diperbolehkan merendahkan derajat orang lain. Tatkala penduduk di marcapada mampu menghargai dan mau mengakui eksistensi manusia lain, cita-cita bermartabat niscaya dapat diraih secara gilang-gemilang.

Hidup bakal menjelma lir ibarat gambaran urang Sunda, tiis ceuli herang panon dan ngaheunang-ngaheuning, estuning teu aya banca pakewu. Itulah seharusnya suasana kota dengan gelar bermartabat. Tidak ada kesemrawutan, tidak ada penyimpangan moral, dan tidak ada ketidakpastian kebijakan yang membuat kita nyinyir. Saya pikir, membina hubungan yang harmonis dengan para pendatang, memelihara alam kita secara kasih-sayang; merupakan inti dari disyari’atkannya ibadah kepada Allah SWT. Manusia, alam dan Tuhan; bagaikan tiga titik kosong yang mesti kita isi.

Lantas, sudah terpeliharakah hubungan kita dengan Allah? Hubungan kita dengan sesama manusia? Dan yang paling inti lagi, hubungan kita dengan alam sekitar?

Di dalam Al-quran dijelaskan bahwa:“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali-Imran: 110). Maka, shalat kita akan terkategori wail (lalai), jika perasaan tumpul tak ingin menolong ketika di kiri-kanan bertebaran masyarakat miskin. Seluruh amal ibadah kita juga sia-sia, jika diri ini tak mampu berbuat kebaikan di muka bumi. Bahkan, Dia (Allah) teramat benci kepada orang yang tidak mau membuang duri dijalanan. Makanya, membuang duri itu kata kanjeng Nabi Muhammad Saw merupakan manifestasi keimanan seorang muslim.

Andai saja hendak menjuluki diri dengan bermartabat, keberadaban laku lampah adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sebab, ketika kita beradab dan menebarkan nilai-nilai kebaikan (al-khair) dalam perilaku, niscaya julukan sebagai manusia bermartabat memang pantas disandang. Ketika laku lampah keseharian penuh dengan kebebalan moral, kota yang kita huni tetap tak akan bermartabat.

Namun, jika kita berusaha menghilangkan ketidakberadaban sikap dan tindakan, kota bermartabat akan dapat diwujudkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuat baiklah. Supaya kamu mendapat kemenangan” (Q.S. Al-Hajj: 77). Ya, kemenangan itu adalah memeroleh gelar bermartabat yang tidak hanya berdatangan dari pandangan segelintir orang saja. Dari Allah, manusia lain, bahkan alam sekitar, tentunya memberikan pandangan baik karena kita menjaga eksisnya martabat kemanusiaan dalam diri. Wallahua’lam

Penulis, Alumni Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

Manusia Bermartabat

Oleh SUKRON ABDILAH

YA, seperti yang dikatakan teman saya. Kota bermartabat seharusnya merupakan replika asli dari keberadaban penduduknya di suatu daerah. Tanpa adanya orang-orang beradab, kota bermartabat hanyalah berbentuk fatamorgana dan akan berubah menjadi kota biadab. Betul juga kalau agama (Islam) mengajarkan kita untuk berlaku sopan-santun kepada siapa pun. Misalnya, menghormati tamu. Mengapa? Sebab, sebuah penghormatan adalah inti kehidupan dari masyarakat yang bermartabat.

Dalam konteks hubungan sosial urang Sunda, umpamanya, kita dapat mengkaji ungkapan: “someah hade ka semah“. Sopan, santun, dan memperlakukan secara baik orang yang bertamu ke daerahnya, salah satu ciri dari manusia bermartabat. Kebijaksanaan tertinggi dari manusia bermartabat adalah menghargai kedirian orang lain. Caci-maki, sumpah serapah, dan menganggap orang lain tak bernilai ketika berinteraksi; tentunya aktivitas yang tidak layak dilakukan orang-orang di kota bermartabat.

Kota bermartabat dengan kebaikan laku lampah warganya tidak dapat dipisahkan. Artinya, kita mesti menyuarakan nilai-nilai kebaikan yang saat ini seakan lekang dari aksi sosial. Sebab, seseorang bisa dikatakan bermartabat kalau saja tidak terjajah jiwa dan raganya sehingga mampu berotonomi untuk berbuat kebajikan. Disamping itu, orang yang bermartabat akan berusaha membebaskan diri dan umat manusia lainnya dari mengguritanya ketertindasan hak-hak asasi (human rights). Membebaskannya dari penindasan struktural, misalnya kemiskinan adalah upaya pemenuhan hak warga untuk sejahtera.

Martabat! Bukan martabak yang bisa dibolak-balik oleh si pedagang di tempat penggorengan. Bukan pula panganan yang bebas kita santap. Martabat merupakan tujuan inti dari diturunkannya Al-Quran. Bahkan diutusnya kanjeng Nabi Muhammad ke muka bumi hanyalah untuk menyempurnakan martabat manusia. “Innama buistu liutammima makarimu al-akhlaq”.

Kota Madinah pada masa Rasul Saw, umpamanya, menjelma menjadi wilayah yang dipenuhi orang-orang bermartabat. Makanya, Madinah secara historik merupakan kota yang tidak dihiasi aksi hidup barbarian. Meskipun Kota Madinah dipenuhi keragaman, itu tidak membuat warganya gelap mata. Mereka saling meghargai satu sama lain. Alhasil, kanjeng Nabi Muhammad memilih berhijrah ke kota ini ketika ditindas oleh bangsa Quraisy karena disinilah tempat yang aman dan tidak akan terjadi pendiskriminasian sistemik.

Di dalam Al-quran terpampang jelas secara indah, padat dan berisi sbb: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok” (Q.S. Al-Hujurat: 11). Ini artinya, kita tidak diperbolehkan merendahkan derajat orang lain. Tatkala penduduk di marcapada mampu menghargai dan mau mengakui eksistensi manusia lain, cita-cita bermartabat niscaya dapat diraih secara gilang-gemilang.

Hidup bakal menjelma lir ibarat gambaran urang Sunda, tiis ceuli herang panon dan ngaheunang-ngaheuning, estuning teu aya banca pakewu. Itulah seharusnya suasana kota dengan gelar bermartabat. Tidak ada kesemrawutan, tidak ada penyimpangan moral, dan tidak ada ketidakpastian kebijakan yang membuat kita nyinyir. Saya pikir, membina hubungan yang harmonis dengan para pendatang, memelihara alam kita secara kasih-sayang; merupakan inti dari disyari’atkannya ibadah kepada Allah SWT. Manusia, alam dan Tuhan; bagaikan tiga titik kosong yang mesti kita isi.

Lantas, sudah terpeliharakah hubungan kita dengan Allah? Hubungan kita dengan sesama manusia? Dan yang paling inti lagi, hubungan kita dengan alam sekitar?

Di dalam Al-quran dijelaskan bahwa:“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali-Imran: 110). Maka, shalat kita akan terkategori wail (lalai), jika perasaan tumpul tak ingin menolong ketika di kiri-kanan bertebaran masyarakat miskin. Seluruh amal ibadah kita juga sia-sia, jika diri ini tak mampu berbuat kebaikan di muka bumi. Bahkan, Dia (Allah) teramat benci kepada orang yang tidak mau membuang duri dijalanan. Makanya, membuang duri itu kata kanjeng Nabi Muhammad Saw merupakan manifestasi keimanan seorang muslim.

Andai saja hendak menjuluki diri dengan bermartabat, keberadaban laku lampah adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sebab, ketika kita beradab dan menebarkan nilai-nilai kebaikan (al-khair) dalam perilaku, niscaya julukan sebagai manusia bermartabat memang pantas disandang. Ketika laku lampah keseharian penuh dengan kebebalan moral, kota yang kita huni tetap tak akan bermartabat.

Namun, jika kita berusaha menghilangkan ketidakberadaban sikap dan tindakan, kota bermartabat akan dapat diwujudkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuat baiklah. Supaya kamu mendapat kemenangan” (Q.S. Al-Hajj: 77). Ya, kemenangan itu adalah memeroleh gelar bermartabat yang tidak hanya berdatangan dari pandangan segelintir orang saja. Dari Allah, manusia lain, bahkan alam sekitar, tentunya memberikan pandangan baik karena kita menjaga eksisnya martabat kemanusiaan dalam diri. Wallahua’lam

Penulis, Alumni Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: