Intelektualisme Muhammad Iqbal

Posted on Mei 30, 2008. Filed under: Artikel |

MEMBINCANGKAN intelektual Muslim abad 20, serasa tidak komplit jika menafikan Muhammad Iqbal. Meminjam bahasa Annemarie Schimmel – ia (Iqbal) tidak akan ada yang menyebutnya seorang Nabi karena bertentangan dengan dogma ajaran Islam, tapi kita boleh menerima bahwa Iqbal ternyata telah disentuh sayap jibril (Gabriels Wing). Sosok Iqbal dalam perspektif Annemarie Schimmel bagai seorang manusia bergelar Nabi yang mendapatkan wahyu dari hantaran Malaikat Jibril sehingga melahirkan karya-karya yang bersifat kewahyuan.

Namun, Iqbal sadar betul akan keterbatasannya, hingga bersyair: Jika saya meninggi sehelai rambut lagi/Maka kemahabesaran Tenaga Gaib akan membakar sayapku habis. Dengan kebrilianan pemikiran, kala nafasnya masih menempel di gelegak motivasi hidup, tidak serta merta merasa ia harus bersikap dan berlaku sombong. Sehingga mengangkangi kekuasaan Tuhan yang Absolut. Sehelai rambut lagi – begitu kata Iqbal – maka yang Maha Kuasa akan menghilangkan hikmah di dalam diriku.

Sir Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab, pada tanggal 22 Februari 1873 dan ada yang menyebut ia lahir pada tanggal 9 Nopember 1877. Terlepas dari perdebatan itu, secara eksistensial ia telah mengalami pergulatan intelektual dari penganut panteisme dan sering disebut sebagai neo-platonisme hingga berubah menjadi intelektual yang aktif, tidak lagi asyik me-nonaktif-kan diri dari realitas sosial yang profan. Ia juga dikategorikan sebagai seorang filosof muslim yang tidak alergi terhadap pemikiran Barat, dan seolah mengajak bangsanya untuk menilai secara objektif pemikiran Barat.

Ia seolah menjadi seorang juri Indonesian Idol yang di satu sisi mengkritisi dan di lain sisi memuji atau menghargai pemikiran Barat. Akan tetapi, kendati sering berinteraksi dengan filsafat Barat, tidak menjadikan dirinya tenggelam dengan “arus globalisasi” pemikiran. Iqbal tetap mengangkat kearifan lokal India pada waktu itu yang berkaitan erat dengan tradisi pemikiran Persia yang banyak mewariskan keberagamaan asketisme, mistisisme, dan skeptisisme. Ia berusaha menafsirkan ketiga jenis keberagamaan itu dengan semangat profetik yang tidak melupakan realitas profan.

Bukti dari keteguhannya terhadap tiga landasan itu, adalah dengan menulis karya filsafat Timur – yang berasal dari Disertasinya – bertajuk: The Development of Metaphysics in Persia: A Contribution to The History of Muslim Philosophy. Di Indonesia karya beliau ini diterbitkan Mizan dengan judul: Metafisika Persia : Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat Islam. Kendati Iqbal mengumandangkan misi kekuatan dan kekuasaan Tuhan, tidak menjadikannya membunuh ego kreasi yang bersemayam di kedalaman diri. Ia selalu membuka katup cakrawala pemikirannya atas dunia di luar Islam (terutama Barat).

Ketika Iqbal meramu fostulat saya berbuat, karena itu saya ada (I act, therefore I exist), membedakannya dengan pemikir Muslim terdahulu yang banyak terjebak kenikmatan “asketisme di sana “. Menyatukan diri dengan Tuhan, tetapi ego kreasi dalam diri terkikis habis. Gejala tersebut oleh Iqbal diistilahkan dengan “kesadaran mistis” dan tentunya sangat bertentangan dengan “kesadaran profetik”. Kesadaran mistik adalah istilah yang digunakan Iqbal untuk mengkategorikan konsep wahdah al-wujud sebagai salah satu usaha yang dilakukan manusia dengan menafikan kehendak pribadi ketika mengidentifikasikan diri dengan Tuhan.

Maka, aktivitas kreatif menjadi tidak terlihat dalam hidup keseharian. Sedangkan, kesadaran profetik adalah sebuah cara mengembangkan suatu kesadaran melalui aktivitas kreatif yang bebas dan melalui kesadaran bahwa aktivitas kreatif manusia adalah aktivitas ilahi. Jadi, konsep wahdah al-wujud dalam perspektif Iqbal adalah pengidentifikasian keinginan pribadi dengan kehendak Tuhan melalui cara penyempurnaan diri, bukan penafian diri. Kehendak manusia pada posisi demikian menjadi otonom, tetapi tetap dalam koridor bimbingan ilahi.

Iqbal tidak serta merta mengakui kedaulatan fostulat milik Descartes, cogito ergo sum, karena eksistensi manusia tidak mengada hanya dengan melakukan kegiatan berpikir untuk mengeksiskan diri an sich. Intelektualisme yang hanya mendewakan rasionalitas tidak akan eksis tanpa ada aktivisme yang berdimensi praksis. Begitulah kira-kira gagasan yang dicoba dikembangkan Iqbal dalam pelbagai karya kritis-kreatif yang selama ini ia permenungkan. Dan dituliskan melalui lembaran-lembaran puisi profetik yang monumental.

Iqbal menjadi seorang sastrawan dan filosof muslim abad 20 yang memberikan kado berharga untuk tetap meng-eksis-kan suara kreatif umat, yang terbungkam pemikiran jumud, rigid, serta kaku atau kikuk. (Sukron Abdilah/Alumni Mahasiswa BPI UIN SGD Bandung ) Artikel ini sudah dimuat di rubrik Literasi, Suplemen Kampus (Pikiran Rakyat, 29 Mei 2008)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: