KEUNTUNGAN MENULIS

Posted on Mei 30, 2008. Filed under: Kolom |

Oleh: Aep Kusnawan, M.Ag

Dari Abi Hurairah R.A., Rasulullah SAW bersabda:

Tiga orang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah: Mujahid yang selalu memperjuangkan

agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar,

dan seorang yang menikah untuk menjaga khormatannya.

(HR. Thabrani)

Siapapun Anda, jika sampai detik ini mengira bahwa dengan tulisan dapat mendatangkan uang, itu tidak keliru, sebab dengan tulisan yang dibuat kemudian diterbitkan, dengannya berarti penulis telah berjasa, dan karena jasanya itu, secara logis penerbit akan menyampaikan “terima kasih”-nya kepada penulis.

Jika Anda menganggap dengan tulisan dapat mempertajam intelektualitas, itu juga tidak salah. Sebab, dengan keinginan menulis yang semakin baik, maka Anda akan semakin banyak membaca. Baik membaca Qur’an, koran, buku, majalah, atau sumber lainnya. Selain itu Anda juga akan semakin sering membaca kondisi, situasi, lingkungan, alam atau segala macam ciptaan Allah dengan berbagai permasalahannya. Dengan demikian, Anda akan semakin dituntut peka terhadap berbagai persoalan yang berkembang, dan Anda akan semakin merasa haus terhadap segala macam sumber informasi. Bukankah itu merupakan suatu yang mendorong terhadap peningkatan intelektualitas?

Mungkin juga Anda mengira bahwa dengan tulisan dapat meningkatkan popularitas, itu juga merupakan hal yang logis. Sebab dengan diterbitkan tulisannya, meski Anda sendiri berada di ruang kamar dengan pesawat komputer, maka sungguh Anda akan dikenal orang. Anda dikenal tidak hanya oleh puluhan orang atau ratusan orang, tidak pula hanya oleh orang di satu daerah, tetapi sebanding lebih dengan jumlah oplah yang diterbitkan oleh media yang memuat tulisan itu, atau sebanding dengan sejumlah orang yang membaca media tersebut, dengan jangkauan wilayah seluas media itu tersebarluaskan.

Akan tetapi, hanya keuntungan yang sifatnya sesaat itukah menulis itu? Sehingga karena sesuatu dan lain hal, masih merasa ragu untuk menekuni dunia tulis, atau barangkali tidak cukup terpuaskan karena keuntungan tulisan yang Anda ketahui, terpaku pada batas-batas yang masih pragmatis, sempit dan tidak lebih luas.

Umpamanya Anda ingin memberikan konstribusi kepada masyarakat atau bahkan lebih dari itu, ingin memiliki “saham” bagi peradaban dunia. Lalu ia bertanya, dapatkah dengan tulisan keinginannya itu tercapai?

Berkenaan dengan hal itu, penulis mengajak Anda untuk kembali mengingat sejarah. Betapa sejarah peradaban manusia sebelum mengenal tulisan adalah sejarah yang kelam bagi manusia yang ada pada masa kini. atau direkonstruksi dari jejak peninggalan yang tampak dan bekas-bekas yang ditinggalkan, dan itu amat terbatas adanya. Sehingga kurun waktu sebelum Anda mengenal tulisan itupun disebut sebagai zaman pra sejarah. Saat itu ahli Antropologi mencatat, antara laju peradaban dengan evolusi manusi berjalan berbanding sejajar, peradaban berjalan lambat seperti jalanya seekor siput.

Sementara sejarah peradaban manusia dipandang baru muncul, setelah ditAndai oleh keberhasilan manusia menciptakan lambang-lambang yang kemudian disebut huruf, yang pada mulanya dituliskan di dinding-dinding gua. Huruf-huruf itu kemudian di rangkai menjadi kata-kata dan disusun menjadi kalimat-kalimat, yang memiliki fungsi untuk mengatakan pikiran-pikiran mereka dari hasil pengalaman yang telah mereka alami.

Dengan demikian, jika sebelum orang mengenal tulisan, suatu pengalaman atau pemikiran manusia hanya menjadi milik dia atau milik masyarakat yang semasa ketika itu, maka setelahnya mereka dapat menulis dan membaca, pengalaman dan pemikiran tersebut tidak hanya dinikmati oleh generasinya, tetapi oleh generasi sesudahnya, bahkan generasi yang jauh sesudah mereka meninggal. Dengan begitu, pemikiran-pemikiran menjadi tekoleksikan dalam suatu arsip yang bernama tulisan. Sejak itu pula, para ahli sejarah mencatat, peradaban manusia mengalami perkembangan yang pesat.

Anda tentu mengenal sejumlah tokoh dalam Islam yang hidup beberapa ratus tahun yang lalu. Namun banyak di antara mereka tetap hidup bersama hingga saat ini, meskipun jasadnya telah terkubur tanah ratusan tahun silam. Al-Ghazali, misalnya, telah meninggal tahun 1111, tapi ia tetap hadir bersama Anda saat ini, karena tulisan-tulisannya yang mengikat erat namanya untuk tetap hidup dan bahkan terus berkembang. Teori-teori Ibn Khaldun pun tetap dibaca Anda, dan dengan teori itu pula Anda kemudian mengembangkan teori-teori baru sesuai dengan perkembangan dan perubahan. Demikianlah, sejumlah pemikir dan pemilik ilmu masa lalu, karena tulisan-tulisannya, hingga saat ini masih hadir bersama generasi saat ini.

Kini, Saatnya Anda Pun Menulis

Dengan pemaparan di atas, nampak kehebatan tulisan, yang telah mampu berperan dengan sangat menakjubkan. Betapa tulisan telah mampu menampung, menabung dan mengkoleksi karya-karya serta menyebarkannya. Bahkan ia juga telah mampu “mendongengkannya” kepada generasi yang hidup sampai berpuluh, beratus, bahkan ribuan tahun kemudian.

Tulisan juga bukan hanya mengakumulasi pengetahuan, tetapi juga memungkinkan bagi pengkoreksian, penambahan dan penyempurnaan dari pengembangan pengetahuan yang baru. Ia ibarat alat rekam, disamping mampu menyimpan memori dari hasil karya rasa dan cipta manusia, juga mampu menerima masukan-masukan baru, sehingga koleksinya kian hari kian bertambah banyak dan semakin baik.

Dengan demikian, kini tergambar sudah, jika Anda mendambakan untuk bisa berhubungan dengan masyarakat luas, turut dalam mencerdaskan kehidupan umat manusia generasi kini dan kemudian, memberikan informasi berharga, menyampaikan penemuan-penemuan, menegakan idealisme dan keadilan, menyuarakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai suatu yang salah, atau Anda ingin berjuang dan berdakwah untuk peradaban yang bermuatan rahmatan bagi seluruh alam, maka melalui tulisan, hal itu bukan hal mustahil. Menulis bisa dimulai dari bentuk diary, dokumen, khutbah, biografi, majalah dinding, buletin, artikel, sampai menulis buku atau kitab. Sekecil apapun karya tulis seseorang, tentu akan tetap terkenang dan terarsipkan.

Jika demikian adanya, maka bukan hanya penulis yang untung, tetapi akan banyak pihak yang diuntungkan. Tidak pula yang diuntungkan itu hanya satu generasi, tetapi juga bisa berlanjut kepada berbagai generasi sesudahnya, bahkan mungkin jauh sesudah Anda tiada. Wallahu A’lam.

Penulis, adalah Penulis Buku “Berdakwah Lewat Tulisan”. Sekretaris Juusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri SGD Bandung.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: